Allah

Juni 17th, 2008 § Tinggalkan sebuah Komentar


"Allah" (kadang-kadang dieja, "Al-Lah") berasal "ilah"
    dan "ilah" mengandung makna "ma'luh', (yang disembah),
    dan nama (ism) tidaklah sama dengan yang dinamai
    (al-musamma). Maka barangsiapa menyembah nama tanpa
    makna, ia sungguh telah kafir dan tidak menyembah
    apa-apa. Barangsiapa menyembah nama dan makna
    (sekaligus), maka ia sungguh telah musyrik dan
    menyembah dua hal. Dan barangsiapa menyembah makna
    tanpa nama maka itulah Tawhid. Engkau mengerti, wahai
    Hisyam?" Hisyam mengatakan lagi, "Tambahilah aku
    (ilmu)". Ja'far al-Shadiq menyambung, "Bagi Allah Yang
    Maha Mulia dan Maha Agung ada sembilanpuluh sembilan
    nama. Kalau seandainya nama itu sama dengan yang
    dinamai, maka setiap nama itu adalah suatu Tuhan.
    Tetapi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah
    suatu Makna (Esensi) yang diacu oleh nama-nama itu,
    sedangkan nama-nama itu sendiri seluruhnya tidaklah
    sama dengan Dia ..." [15]

(Al Imam Ja'far Sadiq A.s)

Kang Sejo melihat Tuhan

Mei 27th, 2008 § Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah cerita menyentuh yang aku baca dari tulisan pak Mohammad Sobary. Tentang kesalehan seorang tukang pijat buta sederhana bernama kang sejo.

Berbicara tentang kesederhanaan sekaligus menyadarkan bahwa terkadang ada wali wali tersembunyi yang bersembunyi dengan penampilan orang orang yg nampak sederhana. Istilah Muslim Prancisnya ( Wali Cache) hehe…atau the hidden saint.

juga mengingatkan aku akan sebuah kalimat indah dari Quran.

” …bukanlah mata kepala yang buta, tetapi yang buta itu ialah mata hati yang ada di dalam dada…”
– Surah al-Hajj 22 : 46
betapa banyak dari kita yang tidak buta mata seperti kang sejo, tetapi buta hatinya…
Kang Sejo melihat Tuhan

Bukan salah saya kalau suatu hari saya ceramah agama di depansejumlahmahasiswaMonashyang, satu di antaranya, Islamnya menggebu. Artinya, Islam serba berbau Arab. Jenggot mestipanjang. Ceramah mesti merujuk ayat, atau Hadis. Lauk mestihalal“meat”.Dan,semangatmestiditujukanbuat meng-Islam-kanorang Australia. Tanpa itu semua jelas tidak Islami.

Saya pun dicap tidak Islami. Iman sayacampuradukdengan wayang.Dus, kalau pakai kaca mata Geertz, seislam-islamnya saya, saya ini masih Hindu. Memang salah saya, sebabketika itu saya main ibarat: Gatutkaca itu sufi. Ia satria-pandita.

Tiap saat seperti tidur, padahal berzikirqolbi.Jasaddi bumi,rohmenemuiTuhan.Ini turu lali, mripat turu, ati tangi: mata tidur hati melek, seperti olah batin dalam dunia kaum sufi.

Biarmasihmuda,hidupGatutkacaseimbang, satu kaki di dunia satu lagi di akhirat. Mirip Nabi Daud: hari ini puasa, sehari esoknya berbuka. Dan saya pun dibabat …

Julitahunlalusayadijuluki Gus Dur sebagai orang yang doanyapendek.Bukanharfiahcumaberdoasebentar. Maksudnya,takbanyak doa yang saya hafal. Namun, yang tak banyak itu saya amalkan.

“Dan itu betul. Artinya, banyakilmundakdiamalkanbuat apa?”kataPakKiaisambilbergolek-golekdi Hotel Sriwedari, Yogya. Apa yanglebihindahdalamhidupini, selain amal yang memperoleh pengakuan Romo Kiai? Saya merasa hidup jadi kepenak, nikmat.

Dalam deretan Sufi, Al Adawiah disebut“raja.”Wanitaini hambayangtotal.Hidupnya buat cinta. Gemerlap dunia tak menarik berkat pesona lain: getaran cinta ilahi.Pernahia berkata,“BilaKau ingin menganugerahi aku nikmat duniawi, berikanitupadamusuh-musuh-Mu.DanbilainginKau limpahkanpadakunikmatsurgawi,berikanlahpada sahabat-sahabat-Mu. Bagiku, Kau cukup.”

Ini tentu berkatke-”raja”-annya.Lumrah.Lainbilaitu terjadipadaKangSejo. Ia tukang pijit -maaf, Kang, saya sebut itu- tunanetra.

Kang Sejo pendek puladoanya.BahasaArabiataktahu. DoanyabahasaJawa: Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur): potongan ayat Kursi itu. Zikir ia kuat.Soalruwet apapun yang dihadapi, wiridannya satu: “Duh, Gusti, Engkau yang tak pernah tidur …” Cuma itu.

“Memangsederhana,wonghidupinipundasarnyajuga sederhana,” katanya, sambil memijit saya.

Sayatertarikcarahidupnya.Sayabelajar. Guru saya ya orangmacamini,antaralain.RumahnyadiKlender. Kantornya,pantipijat itu, di sekitar Blok M. Ketika saya tanya, apa yang dilakukannya di selamemijit,diabilang, “ZikirDuh, Gusti …” Di rumah, di jalan, di tempat kerja, di mana pun, doanya ya Duh, Gusti … itu. Satutapijelas di tangan.

“Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?” tanya saya.

“Tidak saya hitung.”

“Lho,apa tak ada aturannya? Para santri kan dituntun kiai, baca ini sekian ribu, itu sekian ribu,” kata saya

“Monggo mawon (ya, terserah saja),” jawabnya. “Tuhan memberi kitarezekitanpahitungan,kok.Jadi, ibadah pun tanpa hitungan.”

“Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang,” saya memuji.

“Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid.” Dia lalu ketawa.

Diam-diamiasudahnaikhaji.Langgananlama,seorang pejabat, mentraktirnya ke Tanah Suci tiga tahun yang lalu.

‘Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?”

“Itukanrezeki.Danrezekidatang dari sumber yang tak terduga,” katanya.

“Ayat menyebutkan itu, Kang.”

“Monggo mawon. Saya tidak tahu.”

Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa.

“Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab?”

“Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain …”

“Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan.”

Ia, konon, pernah menolak zakatdariseorangtetangganya. Karenadisodor-sodori,iamenyebut, “Duh, Gusti, yang tak pernahtidur…”Pemberizakatitu,entahbagaimana, ketakutan. Ia mengaku uang itu memang kurang halal. Ia minta maaf.

“Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram”? tanya saya.

“Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali.”

“Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?”

“Gusti Allah ora sare, Mas,” jawabnya.

Ya, saya mengerti, Kang Sejo.Ibaratberjalan,kautelah sampai.Dalamkegelapanmatamukau telah melihatNya. Dan aku? Aku masih dalam taraf terpesona. Terus-menerus

(Mohammad Sobary, Tempo 12 Januari 1991)

Tafsir Al-Hikam oleh Gus Mus(K. Mustofa Bisri)

Mei 27th, 2008 § Tinggalkan sebuah Komentar

Tafsir Al Hikam Gus Mus

Marilah kita mulai dengan bersama-sama membaca Bismillahirrahmaanirrahiim!

من علامة الاعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل
Min ‘alaamatil i’timaadi ‘alal ‘amali
Nuqshaanur rajaa-i ‘inda wujuudiz zalal

Termasuk tanda pengandalan pada amal
ialah berkurangnya harapan ketika ada kesalahan

Kita dituntut beramal, namun untuk keselamatan dan kebahagiaan abadi kita, kita tidak boleh mengandalkan amal kita. Bahkan Rasulullah SAW sendiri ketika ditanya apakah seorang mukmin dapat masuk sorga dengan mengandalkan amal-ibadahnya, beliau menjawab tegas: “Tidak”. Bahkan beliau juga menegaskan “Walaa anaa illa an yataghammadaniyaLlahu birahmatiHi wamaghfiratiHi” (Tidak juga aku, kecuali Allah melimpahiku dengan rahmat dan ampunanNya).

Bagi kalangan sufi, mengandalkan amal merupakan sikap angkuh yang tidak bisa dimengerti. Pertama, karena hamba yang beramal tidak tahu pasti apakah amalnya diterima atau tidak oleh Allah; kedua, karena ia bisa beramal semata-mata karena Allah. Lagi pula biasanya orang yang mengandalkan amalnya, akan merasa puas diri dan mengecilkan sesamanya yang dipandangnya tidak atau kurang beramal seperti dia.

Nah, apakah kita termasuk orang yang mengandalkan amal kita ataukah kita termasuk hamba yang tahu diri dan hanya mengandalkan Allah, syeikh Ibn ‘Athaillah memberi petunjuk mengenai tanda-tanda orang yang mengandalkan amalnya yakni antara lain: berkurangnya harapan (istilah tasawufnya: rajaa) orang yang beramal itu ketika dia berbuat kesalahan. Rajaa, berharap kasihsayang dan fadhal Allah merupakan imbangan dari khauf, cemas atau khawatir akan hukuman dan murka Allah. Seorang hamba Allah, bagaimana pun keadaannya tidak boleh kehilangan rajaa. Karena kehilangan rajaa sama dengan berburuk sangka terhadap Allah. Para ‘aarifiin, mereka yang makrifat kepada Allah, tidak pernah kehilangan rajaa; karena mereka tidak mengandalkan –bahkan tidak melihat—kepada amal mereka.

bismillah

Mei 27th, 2008 § Tinggalkan sebuah Komentar

Bismillah

Bis: kulit
Mil: daging
Lah: tulang

Alrahman
Alrahim:
sepasang mata
kiri dan kanan

( Sapardi Djoko Damono )

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.