(Erabaru.or.id) Suatu hari Kaisar Tang Taizong tiba di Istana Cuiwei. Beliau bertanya kepada pejabat yang menyambut,”Sejak jaman nenek moyang, meskipun banyak Kaisar dapat menaklukkan Tiongkok pusat, namun mereka gagal dalam menarik suku minoritas Rong ataupun Di untuk bergabung. Dibanding para pendahuluku, kemampuanku tidaklah seberapa, tapi saya mampu menyempurnakannya lebih baik dari mereka. Saya tidak ingin mengatakan jawabannya saat ini, namun saya ingin bertanya kepada anda sekalian untuk memberikan jawaban yang sebenarnya.”

Seluruh pejabat yang hadir menjawab,” Kebajikan Yang Mulia besar-nya bagaikan langit dan bumi, sangat sulit untuk melukiskan dengan jelas dalam beberapa kata.”

Lalu Kaisar berkata,”Bukan itu. Ada lima alasan mengapa saya dapat menyempurnakan apa yang telah saya kerjakan. Pertama, sejak dulu, banyak Kaisar selalu merasa iri terhadap talenta orang yang melebihinya; dilain pihak, saya sendiri menilai kemampuan orang lain sebagaimana menilai diri sendiri. Kedua, tidak ada orang yang sempurna, jadi saya tidak menghiraukan kekurangan orang namun menggunakan kelebihannya. Ketiga, ketika yang lainnya menemukan orang yang berbakat dan bijak, mereka ingin menguasainya dan mendepak orang yang kurang cakap, bahkan sampai berharap dapat mendorongnya kedalam jurang. Ketika saya bertemu seseorang yang berbakat, saya menghargainya dan kepada orang yang kurang cakap saya mengasihaninya. Dengan cara ini keduanya mendapat tempat yang semestinya. Keempat, sebagian besar Kaisar terdahulu tidak menyukai orang yang lurus, jujur dan vokal. Bahkan dengan diam-diam menindasnya atau terang-terangan menghukumnya. Namun dalam pemerintahan saya, pengadilan dipenuhi oleh pejabat yang lurus, dan tak ada seorangpun yang melanggarnya.  Kelima, sejak dulu para Kaisar selalu menilai lebih tinggi wilayah Tiongkok pusat namun meremehkan suku minoritas Rong dan Di, dilain pihak saya memperlakukan mereka sejajar. Oleh karena itu mengapa mereka menghormati saya seperti orang tuanya sendiri. Inilah 5 alasan saya mengapa saya dapat menyempurnakan apa yang telah saya kerjakan saat ini.” (The Epoch Times/uti)

Kehormatan dan kemuliaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita
bebas dari bergantung kepada selain Allah SWT. Perjuangan kita untuk
menjaga harga diri dari meminta-minta kepada selain Allah adalah
bukti kemuliaan kita. Jiwa mandiri adalah kunci harga diri. 

Satu hal yang telah hilang dari bangsa kita adalah harga diri. Betapa
kita sangat bergantung kepada negara lain untuk pinjaman dan
investasi. Tak aneh bila negara kita memiliki banyak utang sehingga
mudah dipermainkan oleh negara yang meminjami utang tersebut.

Mengapa semua ini terjadi? Jawabnya, sebagian besar kita terlalu
sibuk membangun aksesoris duniawi yang dianggap serba berharga. Kita
tidak sibuk membangun harga diri. Tidak mengherankan apabila ada
orang yang jabatannya tinggi, tapi perbuatannya rendah dan nista.
Atau ada yang hartanya banyak, tapi jiwanya miskin. Kita terlalu
menganggap topeng dunia sebagai sumber kemuliaan dan harga diri.

Sudah menjadi keniscayaan, setiap kita bergantung kepada selain
Allah, pasti kita akan takut kalau sandaran itu diambil orang. Bila
kita dengan sepenuh hati bergantung kepada Allah SWT, maka yakinlah
bahwa Allah tidak akan mengabaikan orang yang bersungguh-sungguh
berharap kepada-Nya. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT
berfirman, "Apabila seorang hamba-Ku mendekati-Ku dengan berjalan,
maka Aku akan mendekatinya dengan berlari. Apabila ia mendekati-Ku
satu jengkal, maka Aku akan mendekatinya satu hasta". 

Dari sini jelas bahwa kehormatan dan kemuliaan yang sebenarnya adalah
ketika hati kita bebas dari bergantung kepada selain Allah.
Perjuangan kita untuk menjaga harga diri dengan tidak meminta-minta
kepada selain Allah adalah bukti kemuliaan sejati. Jiwa mandiri
adalah kunci harga diri. Orang yang mandiri, hidupnya akan bebas dan
merdeka.

Keuntungan lain dari sikap mandiri adalah tumbuhnya rasa percaya
diri. Kemandirian akan sumber kekuatan dan vitalitas dalam
perjuangan. Orang yang percaya diri bisa melakukan pekerjaan jauh
lebih banyak, kata-katanya jauh lebih bermakna, dan waktunya akan
jauh lebih efektif daripada orang selalu bergantung kepada orang lain.

Dengan bersikap mandiri hidup akan terasa lebih tenang. Seorang istri
tidak akan pernah khawatir ditinggal oleh suaminya, bila ia memiliki
sikap mandiri. Ia tahu bahwa semua rezeki sudah diatur secara adil
oleh Allah SWT. Tak ada satu pun makhluk kecuali sudah ditetapkan
rezekinya. Tugas kita adalah menjemput dan mencari berkah dari
karunia Allah SWT tersebut. 

Kita harus mulai bangkit menjadi bangsa yang mandiri. Bangsa yang
mandiri tidak akan pernah terwujud selama pribadi-pribadi yang
menyusun bangsa tersebut tidak pernah belajar menjadi pribadi yang
mandiri. Apa kuncinya? Pertama, mandiri adalah sikap mental. Jadi
seseorang harus memiliki tekad kuat untuk menjadi orang yang mandiri.
Dalam hidup yang hanya sekali ini, kita harus terhormat dan jangan
menjadi budak dari apapun selain Allah SWT. Tekadkan terus untuk
selalu menjaga kehormatan diri dan pantang menjadi beban. Andai pun
hidup kita membebani orang lain, kita harus berusaha membalas dengan
apa-apa yang bisa kita lakukan. Ketika kita membebani orang tua, maka
harga diri kita adalah membalas kebaikan mereka. Begitupun kepada
guru, teman, atau tetangga. Jangan sampai diri kita terhina karena
menjadi benalu atau peminta-minta yang hanya bisa menyusahkan orang
lain.

Kedua, kita harus memiliki keberanian. Berani apa? Berani mencoba dan
berani memikul risiko. Hanya dengan keberanian orang bisa bangkit
untuk mandiri. Tidak pernah kita berada di atas tanpa terlebih dahulu
memulai dari bawah. Adalah mimpi menginginkan hidup sukses tanpa mau
bersusah payah dan berkorban.

Sungguh, dunia ini hanyalah milik para pemberani. Kesuksesan,
kebahagiaan, dan kehormatan sejati hanyalah milik pemberani. Orang
pengecut tidak akan pernah mendapatkan apa-apa karena ia melumpuhkan
kekuatannya sendiri. Kejarlah dunia ini dengan keberanian. Lawanlah
ketakutan dengan keberanian. Takut gelap, berjalanlah di tempat
gelap. Takut berenang, segeralah menceburkan diri ke air. Semakin
kita mampu melawan rasa takut, rasa malas, dan rasa tidak berdaya,
maka akan semakin dekat pula keberhasian itu dengan diri kita.
Semakin sering kita melawan rasa takut, insya Allah keberanian akan
muncul perlahan-lahan. Tentu semua ada risikonya, tapi inilah harga
yang harus kita bayar dalam mengarungi hidup. Kalau kita tidak mau
membayar harganya, kita tidak akan pernah mendapatkan apa yang kita
inginkan.

Ketiga, nikmatilah proses. Segalanya tidak ada yang instan, semua
membutuhkan proses. Menjalani proses adalah sunatullah. Negeri ini
tidak mungkin berubah dalam sehari atau dua hari. Kita harus belajar
menikmati proses perjuangan, menikmati tetesan keringat dan air mata.
Perjuangan adalah nilai kehormatan kita yang sesungguhnya. Kita
jangan terlalu memikirkan hasil. Tugas kita adalah melakukan yang
terbaik. Allah tidak akan memandang hasil yang kita raih, tapi Ia
akan memandang dan menilai kegigihan kita dalam berproses.
Keterpurukan yang menimpa bangsa kita, salah satu penyebabnya adalah
karena kita ingin segera mendapatkan hasil. Padahal, tidak mungkin
ada hasil, tanpa memperjuangkannya terlebih dahulu.

Kita tidak tahu kapan negeri ini akan bangkit. Tetapi bagaimana pun
kita harus memulai dengan sesuatu. Ingatlah selalu kisah seorang
kakek yang dengan semangat menanam pohon kurma. Ketika ditanya untuk
apa ia melakukan semua itu, ia menjawab, "Bukankah kita makan kurma
sekarang ini karena jasa orang-orang yang sudah meninggal. Kenapa
kita tidak mewariskan sesuatu untuk generasi sesudah kita?".

Namun, jangan sampai kegigihan dan kemandirian yang kita lakukan
mendatangkan rasa ujub akan kemampuan diri. Proses kemandirian yang
sejati harus membuat kita tawadhu, rendah hati. Sertailah kegigihan
kita untuk mandiri dengan rasa tawadhu dan tawakal kepada Allah SWT,
karena tidak ada sedikit pun kekuatan dalam diri kita kecuali dengan
kekuatan dari Allah Yang Mahakuat. 

Intinya, kemandirian bukan untuk berbangga diri, tapi harus membuat
kita lebih memiliki harga diri, bisa berprestasi, dan tidak membuat
kita tinggi hati. Wallahua'lam bish-shawab. 

( KH Abdullah Gymnastiar )

"Allah" (kadang-kadang dieja, "Al-Lah") berasal "ilah"
    dan "ilah" mengandung makna "ma'luh', (yang disembah),
    dan nama (ism) tidaklah sama dengan yang dinamai
    (al-musamma). Maka barangsiapa menyembah nama tanpa
    makna, ia sungguh telah kafir dan tidak menyembah
    apa-apa. Barangsiapa menyembah nama dan makna
    (sekaligus), maka ia sungguh telah musyrik dan
    menyembah dua hal. Dan barangsiapa menyembah makna
    tanpa nama maka itulah Tawhid. Engkau mengerti, wahai
    Hisyam?" Hisyam mengatakan lagi, "Tambahilah aku
    (ilmu)". Ja'far al-Shadiq menyambung, "Bagi Allah Yang
    Maha Mulia dan Maha Agung ada sembilanpuluh sembilan
    nama. Kalau seandainya nama itu sama dengan yang
    dinamai, maka setiap nama itu adalah suatu Tuhan.
    Tetapi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah
    suatu Makna (Esensi) yang diacu oleh nama-nama itu,
    sedangkan nama-nama itu sendiri seluruhnya tidaklah
    sama dengan Dia ..." [15]

(Al Imam Ja'far Sadiq A.s)

Tanggapan Hb Munzir Almusawa Seputar Masalah Tragedi Monas

Kedermawanan Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dengan kesejahteraan, Saudara saudariku muslimin muslimat yg kumuliakan, Dengan semakin padatnya desakan terhadap saya lewat email, forum web ini, surat, fax dll untuk memberi tanggapan dan penjelasan permasalahan apa yg diperbuat Majelis Rasulullah saw terhadap Tragedi Monas, maka dengan ini saya menyampaikan sekilas singkat saja tindakan Majelis Rasulullah saw atas hal ini, Saudara saudariku muslimin muslimat yg kumuliakan, Jumlah pengikut Ahmadiyyah di Nusantara ini tidak mencapai 250.000 personil saja, mereka sudah ada sebelum Indonesia merdeka, jumlah mereka sangat sedikit masa itu, namun yg menyebabkan perkembangan mereka bukanlah kehebatan dakwah mereka, namun penyebabnya adalah kegelapan ummat atas iman dan pemahaman akan akidah islam, Jumlah mereka tak mencapai 1% muslimin dimuka bumi, sedangkan yg mesti kita benahi bukan hanya Ahmadiyah, namun juga saudara saudara kita muslimin yg terjebak narkoba, miras, perzinahan, perjudian, kriminal, korupsi, penipuan, kemalasan melakukan hal yg fardhu, seperti meninggalkan shalat lima waktu, tidak mau puasa ramadhan, wanita muslimah yg tak mau menutup auratnya, maraknya aliran sesat seperti Lia Eden, Ahmad Mushoddiq, dan sangat banyak lagi dan diantaranya adalah ahmadiyah, penyebabnya satu saja, yaitu kerusakan iman..

Maka janganlah kita terpaku hanya pada Ahmadiyah satu saja yg tak mencapai 1% dari jumlah muslimin di Indonesia, sedangkan kerusakan ummat yg lain kita lupakan sedangkan jumlahnya jauh lebih banyak, merusak anak anak kita, keluarga dan sahabat kita yg terus berjatuhan pada kemurkaan Allah swt setiap detiknya, Ahmadiyyah dibubarkan atau tidak oleh pemerintah kita, itu bukan tolak ukur bagi kita, karena pembubaran itu akan bersifat semu jika akidah dan iman ummatnya tidak dibenahi, dan pembubaran itu hanya akan menutup satu golongan, yg kemudian timbul ratusan lagi aliran sesat yg membingungkan ummat, Kita jangan terpaku pada pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah atau tidak, kita muslimin muslimat berjuang membenahi anggota Ahmadiyah agar kembali kepada Al Haqq, maka pemerintah membubarkannya atau tidak, memeranginya atau tidak, kita tetap bergerak tanpa harus menunggu dahulu pemerintah yg melakukannya, Kita lihat sendiri betapa dahsyatnya kerusakan akidah muslimin, saat bangkit saudara kita mengkontra ahmadiyah, namun muslimin lainnya bangkit pula mendukung ahmadiyah dan membelanya..

Saudaraku Muslimin Muslimat yg kumuliakan, hentikan Demo Ahmadiyah, hentikan kekerasan atas AHmadiyah, hentikan tuntutan untuk pembubaran atas Ahmadiyah, karena dengan perbuatan saudara saudara kita yg memerangi Ahmadiyah dengan kasar dan menuntut dengan desakan keras pada pemerintah untuk pembubaran Ahmadiyah justru bukanlah membuat Ahmadiyah sirna, justru sebaliknya..!, bagaimana…?? Subhanallah…, inilah yg sangat menakutkan dan berbahaya, justru bukan Ahmadiyah nya yg tak mencapai 1% jumlah muslimin, namun justru Muslimin yg membela dan melindungi Ahmadiah berubah menjadi jutaan banyaknya…!, pendukung Ahmadiyah semakin banyak, yg mendukungnya kini bukan hanya Negara Adikuasa musuh islam, namun kini jutaan Muslimin muslimat menaruh simpatik dan iba terhadap Ahmadiyah, Mungkin sebagian muslimin yg awam kini akan memberi infak besar dan rela melindungi Ahmadiyah dari kejaran muslimin karena tak tega melihat mereka dikejar kejar dan didholimi..

Inilah dampak yg sangat buruk dari kekerasan sebagian saudara kita muslimin, Saudara saudariku yg kumuliakan, bangkitlah.., kembalilah pada kelembutan Nabi saw, pada akhlak beliau saw, pada kesantunan beliau saw, dengan itu anggota anggota Ahmadiyah akan luntur dan kembali pada Iman dan Islam, undang dan ajak mereka ke majelis majelis taklim, ajak mereka makan bersama, undang mereka saat acara acara islami, ajak anak anak mereka hadir acara acara islami, bantu mereka yg susah, selalulah berlemah lembut pada mereka, namun tetap bahwa kita tak sefaham dengan mereka dalam masalah akidah, sungguh mereka akan mulai merasa bahwa merekalah yg salah, karena merasa beda sendiri dari muslimin lainnya, terpuruk dan membenci orang muslimin banyak, sedangkan orang orang muslim ternyata baik pada mereka, mereka akan malu sendiri dan menemukan kebenaran, Dan Ingat, bukan hanya Ahmadiyah, tapi seluruh lapisan masyarakat yg terkena ajaran sesat, seperti Lia Eden, Mushoddiq, dll, juga saudara saudara kita yg terjebak narkotika, perzinahan, perjudian, miras, dll janganlah dikasari dan dicaci maki dan dimusuhi, rangkullah mereka untuk berbaur dengan orang yg baik baik hingga mereka mengenal hal yg baik baik bersama orang yg baik dan ramah pada mereka.

Mengenai pemerintah, maka hati hatilah, memang Negara adikuasa sangat menginginkan muslimin bisa diadu domba dengan pemerintahnya sendiri, maka tak perlu Negara musuh musuh islam itu turun tangan menghancurkan simpul simpul kekuatan islam, namun biarlah pemerintah di negeri mereka masing masing yg menghantam mereka, sehingga muslimin saling hantam dengan pemerintahan di negaranya masing masing, mereka kuffar bertepuk tangan atas kejadian ini, media terus meliput kekerasan dan anarkis beberapa gelintir para pemuda peci putih dan pakaian sunnah, namun itu membuat pakaian sunnah dibenci dan identik dengan kekerasan, bukan kedamaian.. inilah harapan besar para Negara musuh islam, agar muslimin yg awam menjadi benci pada pakaian islami, atau malu memakai pakaian islami, karena takut dituduh anarkisme.. maka setelah bulan maulid yg diberkahi Allah swt di negeri kita dengan semakin dahsyatnya gerakan perayaan maulid yg semarak dan menarik perhatian muslimin yg awam untuk memperbaiki diri dan bernaung dibawah sunnah, disaat Jakarta dan wilayah wilayah lainnya mulai terang benderang dengan muslimin yg memakai peci putih, sarung, dll, kini berubahlah mereka pada kemunduran…, semua asesoris islami didentikkan dengan kekerasan dan terorisme, selama ini ketika misalnya naik beberapa pemuda bepeci putih, berbaju putih dan berbusana islami ke sebuah Bus umum misalnya, maka masyarakat awam akan simpatik dan tenang, wah.. pasti anak baik baik, harapan bangsa, pasti dari maulidan atau pengajian, Alhamdulillah…, keberadaan mereka membuat sejuknya jiwa manusia disekitarnya, namun kini ketika naik sekelompok pemuda berbusana muslim,peci putih, baju putih, maka orang orang awam mencibir benci, atau risau dan takut, jangan jangan mau swiping, jangan jangan mau merusak, jangan jangan anggota gerakan anarkis, mereka sudah takut dan benci dengan pakaian islami.. jika masuk sekelompok anak muda dg busana muslim ke sebuah pasar atau pertokoan, maka para satpam tidak lagi merasa aman, mereka langsung curiga dan bermuka masam.. muslimin yg awam kini merasa lebih aman jika melihat orang berbusana kuffar, wanita yg bercelana pendek, pria beranting dan memakai cincin besi dihidung dan bibirnya, mereka merasa lebih aman dengan itu daripada pemuda berbusana sunnah Rasul saw.. inilah kemauan dan tujuan musuh musuh islam…

Saudara saudariku yg kumuliakan, bangkitlah, bersatulah.., lupakan seluruh atribut kita, kita akan bangkit dihari kiamat dibawah satu pimpinan, yaitu Sayyidina Muhammad saw.. tidak ada panji kelompok, panji organisasi, dan panji partai, yg akan berkibar disana hanya bendera Muhammad Rasulullah saw yg akan ditegakkan, dan panji ummat ummat sebelum beliau dengan Nabinya masing masing, maka bersatulah, satukan niat, ingatlah sebidang tanah kubur kita yg sudah menanti tubuh kita dibelahan bumi ini, mereka sudah diberi kepastian bahwa fulan bin fulan akan bersemayam dibawah mereka.., ketika engkau mengingat kepastian saat saat tubuhmu diturunkan pelahan kedalam bumi, lalu kain penutup wajahmu dilepas, lalu kau dihadapkan ke kanan, wajahmu diciumkan ke tanah dinding kubur yg lembab, dan punggungmu diganjal batu bata agar kau tak lepas dari mencium dinding tanah kuburmu, lalu kayu kayu papan disusunkan satu persatu menutupmu, lalu mulailah tanah ditimbunkan padamu, diiringi tangis keluarga dan sahabat sahabatmu, lalu suasana gelap gulita…, sebagaimana sabda Nabi saw riwayat shahih Bukhari, bahwa kau akan mendengar langkah langkah para penguburmu yg berderap menjauh meninggalkan kuburmu.., inilah nasib semua manusia.., inilah akhir dari segala kehidupan, segala karya, usaha, pemikiran, pendapat, perjuangan,kekayaan, kemiskinan,kenikmatan, kesedihan, jabatan, kesibukan dan semua aktifitas yg dilakukan manusia dimuka bumi.., inilah puncak dan akhir dari semuanya.. tinggallah kau sendiri dengan Allah.., bagaimana Allah akan memperlakukan kita?, cukupkah amal amal kita?

Sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yg tak mengasihani orang, maka Allah tak mengasihaninya” (Shahih Bukhari). Maka bersatulah.. dan saling mengasihilah.. kita doakan semua saudara saudara muslim kita yg teraniaya sebab masalah ini agar diberi ksembuhan dan kesabaran, dan saudara saudara kita yg bermasalah dengan fihak yg berwajib agar segera dibebaskan, dan semoga Allah swt segera memadamkan api fitnah permusuhan antara sesame muslimin, dan agar Allah swt segera membantu kita untuk mentauhidkan mereka yg dalam kerusakan akidah, amiin… amiin..amiin.. Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu. Akhir kata, mari kita benahi iman ummat ini, maka terkikislah ahmadiyah, narkoba, perzinahan, korupsi, dan seluruh aliran sesat dan perbuatan sesat.

Allah menumpahkan kekuatan dan kemudahan padaku dan kalian dalam perjuangan ini, amiin
Wallahu a’lam

majelisrasulullah.org

7 Samurais

nonton pelem Seven Samurai lumayan bermanfaat buat jadi pelajaran strategi hidup.film kuno item putih emang tapi the best samurai film yg pernah aku tonton…

Cerita singkat film ini itu cerita tntang sebuah desa di jaman jepang feodal doeloe kala yang terancam serangan perampok dari gunung, oleh karena itu mereka minta bantuan dari 7 orang samurai untuk mengatasi gerombolan perampok yg mau nyerbu itu. Mantep kan ceritanya…

Utusan orang2 desa minta seorang samurai tua tapi berpengalaman,yang mana jadi samurai pertama, namanya Kambei Shimada untuk rekrut 6 orang samurai yang lain.

Singkat cerita Kambei dan muridnya mulai merekrut samurai samurai jagoan.

Samurai pertama yang mau direkrut harus orang yang dijadiin tangan kanannya dalam pertempuran melawan para perampok. Orang yang harus bener2 handal…

Ok, tesnya gini. para samurai yang mau direkrut disuruh masuk ruangan dan ketemu sama Kambei tapi udah disiapkan jebakan yaitu diserang sama murid Kambei yang sembunyi di balik pintu.

Samurai pertama masuk..Tampangnya sangar dan kuat…begitu dia masuk ruangan jebakan, murid Kambei langsung serang..tapi Samurai itu langsung sigap nyergap murid Kambei, rebut pedang kayunya dan banting si murid…wow Samurai yang jelas2 bukan sembarangn…

tapi sayangnya dia marah sama Kambei karena ngerasa dijebak. “Katanya anda mau minta bantuan kok malah saya dijebak!!” terus samurai itu langsung cabut.

Murid Kambei nyesel sampai bilang.“waduh guru kita kehilangan orang yang hebat!”
Kambei cuma jawab.” jangan takut, masih ada yg lebih bagus lagi.”

Akhirnya mereka dapet samurai yang lain untuk di tes.

Samurai ini dipanggil Kambei untuk masuk menghadap Kambei di ruangan yg udah disiapin jebakan.

Tetapi begitu Samurai ini mau masuk pintu ruangan itu yang di baliknya udah nunggu jebakan seperti sebelumnya….dia berhenti lalu senyum…terus samurai ini bilang.” Ah anda jangan bercanda seperti ini.”

Kambei langsung ketawa. “Hahahahaha andalah orang yang saya cari!!”

ya samurai itu diterima jadi tangan kanannya Kambei. Namanya Gorobei Katayama.
Sebelum masuk ke ruangan jebakan Gorobei-san sudah nebak ada yg eng beres makanya dia eng jadi masuk ruangan. no! ini bukan masalah spiritual, bukan masalah membaca atau merasakan aura bahaya.

ini masalah strategi. Membaca situasi

Bagi Kambei, Samurai yang baik bukanlah samurai yang bisa mengatasi segala serangan atau masalah yang terjadi saat itu…ini eng cukup.

Bagi Kambei, si samurai tua itu, Samurai yang baik adalah samurai yang bisa mengatasi segala serangan atau masalah yang belum dan akan terjadi, mencegah bahaya sebelum datang…
seorang Visioner yg baik….

Sebuah cerita menyentuh yang aku baca dari tulisan pak Mohammad Sobary. Tentang kesalehan seorang tukang pijat buta sederhana bernama kang sejo.

Berbicara tentang kesederhanaan sekaligus menyadarkan bahwa terkadang ada wali wali tersembunyi yang bersembunyi dengan penampilan orang orang yg nampak sederhana. Istilah Muslim Prancisnya ( Wali Cache) hehe…atau the hidden saint.

juga mengingatkan aku akan sebuah kalimat indah dari Quran.

” …bukanlah mata kepala yang buta, tetapi yang buta itu ialah mata hati yang ada di dalam dada…”
– Surah al-Hajj 22 : 46
betapa banyak dari kita yang tidak buta mata seperti kang sejo, tetapi buta hatinya…
Kang Sejo melihat Tuhan

Bukan salah saya kalau suatu hari saya ceramah agama di depan sejumlah mahasiswa Monash yang, satu di antaranya, Islamnya menggebu. Artinya, Islam serba berbau Arab. Jenggot mesti panjang. Ceramah mesti merujuk ayat, atau Hadis. Lauk mesti halal “meat”. Dan, semangat mesti ditujukan buat meng-Islam-kan orang Australia. Tanpa itu semua jelas tidak Islami.

Saya pun dicap tidak Islami. Iman saya campur aduk dengan wayang. Dus, kalau pakai kaca mata Geertz, seislam-islamnya saya, saya ini masih Hindu. Memang salah saya, sebab ketika itu saya main ibarat: Gatutkaca itu sufi. Ia satria-pandita.

Tiap saat seperti tidur, padahal berzikir qolbi. Jasad di bumi, roh menemui Tuhan. Ini turu lali, mripat turu, ati tangi: mata tidur hati melek, seperti olah batin dalam dunia kaum sufi.

Biar masih muda, hidup Gatutkaca seimbang, satu kaki di dunia satu lagi di akhirat. Mirip Nabi Daud: hari ini puasa, sehari esoknya berbuka. Dan saya pun dibabat …

Juli tahun lalu saya dijuluki Gus Dur sebagai orang yang doanya pendek. Bukan harfiah cuma berdoa sebentar. Maksudnya, tak banyak doa yang saya hafal. Namun, yang tak banyak itu saya amalkan.

“Dan itu betul. Artinya, banyak ilmu ndak diamalkan buat apa?” kata Pak Kiai sambil bergolek-golek di Hotel Sriwedari, Yogya. Apa yang lebih indah dalam hidup ini, selain amal yang memperoleh pengakuan Romo Kiai? Saya merasa hidup jadi kepenak, nikmat.

Dalam deretan Sufi, Al Adawiah disebut “raja.” Wanita ini hamba yang total. Hidupnya buat cinta. Gemerlap dunia tak menarik berkat pesona lain: getaran cinta ilahi. Pernah ia berkata, “Bila Kau ingin menganugerahi aku nikmat duniawi, berikan itu pada musuh-musuh-Mu. Dan bila ingin Kau limpahkan padaku nikmat surgawi, berikanlah pada sahabat-sahabat-Mu. Bagiku, Kau cukup.”

Ini tentu berkat ke-”raja”-annya. Lumrah. Lain bila itu terjadi pada Kang Sejo. Ia tukang pijit -maaf, Kang, saya sebut itu- tunanetra.

Kang Sejo pendek pula doanya. Bahasa Arab ia tak tahu. Doanya bahasa Jawa: Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur): potongan ayat Kursi itu. Zikir ia kuat. Soal ruwet apa pun yang dihadapi, wiridannya satu: “Duh, Gusti, Engkau yang tak pernah tidur …” Cuma itu.

“Memang sederhana, wong hidup ini pun dasarnya juga sederhana,” katanya, sambil memijit saya.

Saya tertarik cara hidupnya. Saya belajar. Guru saya ya orang macam ini, antara lain. Rumahnya di Klender. Kantornya, panti pijat itu, di sekitar Blok M. Ketika saya tanya, apa yang dilakukannya di sela memijit, dia bilang, “Zikir Duh, Gusti …” Di rumah, di jalan, di tempat kerja, di mana pun, doanya ya Duh, Gusti … itu. Satu tapi jelas di tangan.

“Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?” tanya saya.

“Tidak saya hitung.”

“Lho, apa tak ada aturannya? Para santri kan dituntun kiai, baca ini sekian ribu, itu sekian ribu,” kata saya

“Monggo mawon (ya, terserah saja),” jawabnya. “Tuhan memberi kita rezeki tanpa hitungan, kok. Jadi, ibadah pun tanpa hitungan.”

“Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang,” saya memuji.

“Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid.” Dia lalu ketawa.

Diam-diam ia sudah naik haji. Langganan lama, seorang pejabat, mentraktirnya ke Tanah Suci tiga tahun yang lalu.

‘Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?”

“Itu kan rezeki. Dan rezeki datang dari sumber yang tak terduga,” katanya.

“Ayat menyebutkan itu, Kang.”

“Monggo mawon. Saya tidak tahu.”

Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa.

“Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab?”

“Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain …”

“Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan.”

Ia, konon, pernah menolak zakat dari seorang tetangganya. Karena disodor-sodori, ia menyebut, “Duh, Gusti, yang tak pernah tidur …” Pemberi zakat itu, entah bagaimana, ketakutan. Ia mengaku uang itu memang kurang halal. Ia minta maaf.

“Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram”? tanya saya.

“Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali.”

“Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?”

“Gusti Allah ora sare, Mas,” jawabnya.

Ya, saya mengerti, Kang Sejo. Ibarat berjalan, kau telah sampai. Dalam kegelapan matamu kau telah melihatNya. Dan aku? Aku masih dalam taraf terpesona. Terus-menerus

(Mohammad Sobary, Tempo 12 Januari 1991)

Tafsir Al Hikam Gus Mus

Marilah kita mulai dengan bersama-sama membaca Bismillahirrahmaanirrahiim!

من علامة الاعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل
Min ‘alaamatil i’timaadi ‘alal ‘amali
Nuqshaanur rajaa-i ‘inda wujuudiz zalal

Termasuk tanda pengandalan pada amal
ialah berkurangnya harapan ketika ada kesalahan

Kita dituntut beramal, namun untuk keselamatan dan kebahagiaan abadi kita, kita tidak boleh mengandalkan amal kita. Bahkan Rasulullah SAW sendiri ketika ditanya apakah seorang mukmin dapat masuk sorga dengan mengandalkan amal-ibadahnya, beliau menjawab tegas: “Tidak”. Bahkan beliau juga menegaskan “Walaa anaa illa an yataghammadaniyaLlahu birahmatiHi wamaghfiratiHi” (Tidak juga aku, kecuali Allah melimpahiku dengan rahmat dan ampunanNya).

Bagi kalangan sufi, mengandalkan amal merupakan sikap angkuh yang tidak bisa dimengerti. Pertama, karena hamba yang beramal tidak tahu pasti apakah amalnya diterima atau tidak oleh Allah; kedua, karena ia bisa beramal semata-mata karena Allah. Lagi pula biasanya orang yang mengandalkan amalnya, akan merasa puas diri dan mengecilkan sesamanya yang dipandangnya tidak atau kurang beramal seperti dia.

Nah, apakah kita termasuk orang yang mengandalkan amal kita ataukah kita termasuk hamba yang tahu diri dan hanya mengandalkan Allah, syeikh Ibn ‘Athaillah memberi petunjuk mengenai tanda-tanda orang yang mengandalkan amalnya yakni antara lain: berkurangnya harapan (istilah tasawufnya: rajaa) orang yang beramal itu ketika dia berbuat kesalahan. Rajaa, berharap kasihsayang dan fadhal Allah merupakan imbangan dari khauf, cemas atau khawatir akan hukuman dan murka Allah. Seorang hamba Allah, bagaimana pun keadaannya tidak boleh kehilangan rajaa. Karena kehilangan rajaa sama dengan berburuk sangka terhadap Allah. Para ‘aarifiin, mereka yang makrifat kepada Allah, tidak pernah kehilangan rajaa; karena mereka tidak mengandalkan –bahkan tidak melihat—kepada amal mereka.

Bismillah

Bis: kulit
Mil: daging
Lah: tulang

Alrahman
Alrahim:
sepasang mata
kiri dan kanan

( Sapardi Djoko Damono )